Gelaran Event Bersatu Bersih Desa, Wariskan Lingkungan Lestari: Brantas Eco-Adenture (BEA) yang perdana sukses diselenggarakan pada Minggu, 23 November 2025. Event ini adalah event kolaborasi Green Youth Movement, Sanggar Hijau Indonesia, Ekosistem Kreatif Brantas, dan Duta Lingkungan Hidup Kabupaten Jombang. BEA bertujuan untuk mengedukasi peserta akan keberagaman alam, sejarah, pangan, dan sosial budaya daerah aliran sungai (DAS) Sungai Brantas khususnya yang ada di Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang.

Acara ini diikuti oleh setidaknya 130 peserta yang berasal dari siswa-siswi dari berbagai SMP/ SMA Jombang serta beberapa komunitas pecinta alam/ lingkungan. Start dan finish di area Pasar Brantas, Desa Ngogri, peserta lantas dibagi menjadi empat grup yang dinamai ikan-ikan lokal Sungai Brantas: rengkik, jendil, keting, dan wader. Tiap grup kemudian mengeksplor beberapa tempat yang dilabeli eco-stop dimana mereka bisa mendapatkan pengetahuan tematik yang disampaikan oleh penutur serta mencoba berbagai pengalaman seru. Eco stop tersebut antara lain Baseban Brantas Coffee (dimana peserta eksplor keberagaman pangan lokal), Museum Brantas Jombang (dimana peserta belajar tentang seluk beluk Sungai Brantas dan berbagai ikan lokal), dan Petilasan Damar Wulan (dimana peserta belajar tentang pitutur Jawa akan pelestarian lingkunga, wayang Brantas, dan sejarah Damar Wulan). “Petilasan Damar Wulan ini adalah peninggalan sejarah dari Kerajaan Majapahit yang patut kita jaga keberadaannya. Petilasan ini kerap dikunjungi oleh banyak orang dari berbagai daerah baik itu untuk berdoa, bermeditasi, atau telusur sejarah.” papar Slamet Santoso, dalam Wayang Brantas yang sekaligus penutur di eco-stop Petilasan Damar Wulan.

“Para Grup Leader Rengkik, Jendil, Wader, dan Kotok”

Eco-stop lainnya adalah Dam Karet Jatimlerek (dimana peserta memahami siklus air, fungsi dam, dan peran penting pohon), Tambangan Perahu Megaluh (dimana peserta belajar peran transportasi sungai dan mencoba naik perahu penyeberangan sungai di sana), dan tentunya Pasar Brantas (dimana peserta memahami pengolahan sampah berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat).

Saat di lokasi ini, salah satu peserta dari SMP 5 Jombang dengan menyampaikan kesan kali pertama mencicipi pangan lokal baseban. Disusul kelompok lain dari SMP 1 Jombang dan MA Ngesong dengan yel-yelnya mengaku senang mencoba trnasportasi sungai di Tambangan Megaluh. Peserta berjalan kaki dari satu eco-stop ke eco-stop lainnya. Selain itu di beberapa rute mereka naik mobil pick up yang disediakan panitia penyelenggara.

“Perwakilan Peserta dalam Sesi Pembukaan Acara”

Dari Edukasi ke Aksi dan Dampak Nyata

Selama penjelajahan berlangsung, peserta juga melakukan aksi nyata berupa plogging yaitu memungut sampah non organik sepanjang jalan atau rute yang dilalui. Sampah ini kemudian ditimbang dan dikumpulkan untuk kemudian dibawa ke TPA Banjardowo. Peserta terlihat antusias mendengar berbagai ilmu pengetahuan dan pengalaman baru yang disampaikan penutur dan warga setempat. Mereka menuangkan pembelajaran itu dalam satu kertas A3 yang disebut Brantas Eco-Card. “Acara BEA ini telah memberikan dampak yang nyata bagi banyak pihak. Bagi peserta, mereka mendapatkan banyak pemahaman baru di tiap eco-stop yang dikunjungi. Kami berharap ini jadi bekal penting agar mereka makin dekat dan cinta pada lingkungan khususnya Sungai Brantas. Tercatat lebih dari 130 kg sampah non organik berhasil dikumpulkan. Selain itu, acara ini juga mendorong berputarnya uang dan ekonomi setempat khususnya para pedagang Pasar Brantas.” ujar Muchdlir Zauhariy atau akrab disapa Johar, pendiri Ekosistem Kreatif Brantas.

“Mendengar Sesi Penjelasan tentang Sungai Brantas dan Ikan Lokal Brantas di Museum Brantas Jombang”

Acara BEA berlangsung makin meriah karena adanya hiburan dari berbagai grup seni budaya Njombangan seperti karawitan perempuan Purnama Laras, dhagelan Kembang Anggrek, dan gejok lesung Guyub Rukun. Di saat yang bersamaan, di Pasar Brantas juga sedang digelar Lomba Mewarnai Museum Brantas Jombang Spesial Hari Pahlawan yang mengangkat tema . Lomba ini diikuti oleh anak-anak usia TK/ RA dan playgroup.

Acara ditutup dengan pengumuman pemenang Grup Terbaik dan Grup dengan Jumlah Sampah Terkumpul Terbanyak. Nisa Dwiyana Duta Lingkungan 2024 mengaku sangat senang dan berharap kegiatan diadakan setiap tahun. 

“Peserta Melakukan Plogging di Tangkis Sungai Brantas Desa Megaluh”

Mendapat Apresiasi dan Dukungan dari Berbagai Pihak

Kami bersyukur bahwa acara ini mendapat apresiasi dan dukungan dari berbagai pihak. Bu Camat dan jajaran, Polsek Megaluh, Koramil Megaluh, dan beberapa perwakilan desa setempat hadir dalam pembukaan BEA. Dalam sambutannya, Camat Megaluh Bu Ummi Salamah memberikan penghargaan atas inisiatif BEA ini, sebagai acara yang sangat baik dalam mengenalkan potensi Kecamatan Megaluh sekaligus menguatkan kepedulian kelestarian lingkungan khususnya Sungai Brantas. Lebih lanjut, Camat Megaluh berharap peserta semangat menyelesaikan acara dan getok tular atau menyebarkan pengalaman dan kesan yang didapat di Megaluh ke teman-teman atau keluarga serta melalui media sosial.

“Peserta Menyaksikan Pementasan Wayang Brantas di Situs Petilasan Damar Wulan”

BEA juga didukung oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jombang yang menyediakan armada mobil bak untuk mengangkut para peserta dari rute satu ke lainnya serta truk pengangkut sampah. Palang Merah Indonesia Kabupaten Jombang juga siap siaga menyediakan tenaga kesehatan serta berbagai fasilitas dan obat-obatan pendukung. Berbagai komunitas pecinta lingkungan seperti Santri Jogo Kali ikut serta memastikan ratusan sampah yang terkumpul bisa kemudian dipilah dan ditransportasikan ke TPA Banjardowo.

Queen Azalia Rahmawati sebagai leader dari Green Youth Movement SB DLH

Queen Azalia Rahmawati sebagai leader dari Green Youth Movement SB DLH memaparkan jika Brantas Eco Adventure lahir dari keinginan sederhana: menghadirkan kegiatan lingkungan yang terasa dekat, menyenangkan, dan relevan bagi masyarakat, khususnya anak muda. Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa petualangan di alam tidak hanya soal menikmati keindahannya, tetapi juga tentang merawat dan menjaga lingkungan tempat kita hidup.

Tujuan utama dari Brantas Eco Adventure adalah menumbuhkan kesadaran bahwa setiap langkah kecil dapat memberikan dampak besar bagi keberlanjutan ekosistem. Dalam pelaksanaannya, kami berhasil membuktikan bahwa gerakan lingkungan dapat dirancang sebagai kegiatan yang partisipatif, menyenangkan, dan tetap menghasilkan perubahan nyata.

“Peserta Mencoba Ragam Pangan Lokal di Baseban Brantas”

Event ini sukses menerapkan konsep zero single-use plastic, memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tanpa penggunaan plastik sekali pakai. Selain itu, aksi clean-up yang melibatkan peserta dan relawan mampu mengurangi hingga 90% sampah plastik di area kegiatan, dengan total lebih dari 200 kilogram sampah berhasil dikumpulkan, dipilah, dan dikelola secara berkelanjutan.

Dampak sosialnya pun sangat terasa. Sebanyak 130an peserta yang berasal dari 18 sekolah ikut berpartisipasi, menunjukkan antusiasme dan komitmen mereka terhadap pendidikan lingkungan. Kehadiran generasi muda dalam jumlah besar menjadi bukti bahwa kesadaran lingkungan dapat tumbuh melalui kolaborasi, pengalaman langsung, dan aksi nyata di lapangan.

“Peserta Mencoba Naik Perahu Penyeberangan Sungai Brantas – Tambangan di Desa Megaluh”

Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta, panitia, relawan dan pihak yang mendukung acara ini. Semoga acara BEA bisa diselenggarakan lagi di tahun-tahun mendatang. Matur suwun!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *