Senangnya Keluarga Besar Karawitan Perempuan Purnama Laras Jalan-Jalan ke Jogjakarta

Halo Rek!

Alhamdulillah pada Januari 2026 ini, keluarga besar Karawitan Perempuan Purnama Laras diberikan rezeki dan kesempatan jalan-jalan ke Daerah Istimewa Yogyakarta. Acara ini bertujuan untuk wisata sekaligus mengenal daerah atau destinasi wisata yang dituju. Total ada hampir 40 orang peserta yang terdiri dari anggota Purnama Laras dan peserta dari masyarakat umum.

Bagi anggota Purnama Laras, jalan-jalan ini spesial karena mereka bisa wisata gratis dari uang hasil tanggapan yang selama ini ditabung sedikit demi sedikit. Grup ini memang biasanya tampil dalam berbagai event seperti event hajatan dan mendapatkan uang terima kasih. Uang ini yang digunakan sebagaian untuk operasional dan lainnya ditabung. Kami bersyukur kerja keras mereka akhirnya bisa mengantar mereka jalan-jalan ke Jogjakarta.

Rombongan berangkat Jum’at malam dan diiringi dengan doa agar perjalanan selamat. Perjalanan akan panjang dan memelah kan karena memang rombongan akan non stop mengunjungi beberapa destinasi wisata dan lanjut pulang kembali ke Jombang, Jawa Timur. Model jalan-jalan seperti ini lumrah dilakukan apalagi karena memang anggaran yang terbatas sehingga tidak memungkinkan untuk menginap di penginapan tertentu. Bus mulai melaju berangkat dari area Masjid Besar Nuruddin sekitar jam 22.30 WIB dan peserta mulai membaca sholawat. 

Indahnya Pantai Drini, Kabupaten Gunung Kidul

Rombongan tiba di Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul waktu subuh, rombongan bertolak ke Pantai Drini. Pantai yang indah dengan pasir putih dan air biru kehijauan menghadap langsung ke laut selatan. Turun dari bus, rombongan menggelar tikar dan sarapan bersama dari bontotan yang dibawa dari rumah. Bontotan adalah istilah yang digunakan ketika kita membawa makanan dari rumah dalam bungkusan. Terlihat warga guyub dan berbagi makanan satu sama lain. Di Pantai Drini, rombongan menikmati pantai dengan berbagai kegiatan: ada yang bermain air, bermain pasir, berfoto-foto, dan ada juga yang sekedar duduk-duduk di pantai. Pantai Drini adalah salah satu pantai terkenal di Gunung Kidul. Di sini juga berjejer warung-warung yang menjual aneka makanan mulai dari olahan hasil laut seperti keripik rumput laut, udang goreng, baby crab goreng, ikan wader goreng dan lainnya. Ada juga penjual aneka minuman segar termasuk kelapa hijau. Waktu kunjung terbaik ke pantai ini memang di pagi atau sore hari ketika cuaca tidak begitu panas. Selain pantai, sebenarnya juga ada obyek wisata lain di pantai ini seperti Drini Park dan On the Rock. Tentunya jika ingin masuk ke sini maka pengunjung perlu membayar tiket masuk.

Terpesona Pelestarian Seni Budaya Jawa di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Agenda dilanjutkan dengan kunjungan ke Keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang ada di Kota Yogyakarta. Di keraton ini, kami dipandu oleh abdi dalem yang bernama Bu Lestari. Beliau menjelaskan detail tentang bangunan istana yang kami kunjungi satu per satu. Kami menelusuri area-area keraton yang memang selama ini boleh dikunjungi oleh masyarakat dan wisatawan karena ada area yang khusus untuk keluarga besar keraton dan tidak bisa diakses oleh orang luar. Keraton ini adalah peninggalan dari Kerajaan Mataram Islam selain Pakualaman, Surakarta Hadiringrat, dan Mangkunegaran. Yogyakarta merupakan satu-satunya provinsi yang menyandang status Daerah Istimewa. Berbeda dengan provinsi lain, gubernur dari provinsi ini adalah Sultan Hamengkubuwono X dan tidak dipilih melalui pemilu seperti halnya provinsi lain. Yogyakarta juga punya Dana Istimewa yang ditransfer oleh pemerintah pusat dan kemudian digunakan untuk berbagai tujuan pembangunan termasuk pelestarian seni budaya. Saat kunjungan kami, sedang ada pameran temporer bertajuk Pangastho Aji: Laku Sultan Kedelapan. Pameran ini bercerita tentang kehidupan Sultan Hamengkubuwon VIII termasuk karya dan kontribusi sultan tersebut.

Suasana keraton siang itu sangat ramai. Para peserta pun antusias tur salah satu keraton terbesar di Indonesia ini. Di pintu masuk, beberapa pedagang menawari kami aneka dagangan kerajinan seperti kipas, tiupan burung, dan lainnya. Ada juga fotografer yang mengabadikan momen kami di area depan sebelum pintu masuk. Ketika kami keluar, fotografer tersebut kemudian menawarkan agenda tahun 2026 lengkap beserta foto kami yang tercetak. Harganya 10 ribu rupiah jika kita ingin beli dan bawa pulang. Terlihat beberapa dari kami membeli kalender tersebut.

Menapak Sejarah Kota Gede dan Industri Peraknya

Lepas dari keraton, rombongan menuju Kota Gede tepatnya di Kota Gede Living Museum. Museum yang dikelola Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta ini duluanya adalah rumah Hj. Noerijah yang merupakan pengusaha perak ternama dan kaya raya pada zamannya. Di museum ini, kami dijelaskan oleh pemandu museum sejarah Mataram Islam, sejarah industri perak di Kota Gede serta seni budaya khas masyarakat Jawa. Konon di kawasan ini dulu dikenal golongan yang disebut orang Kalang. Orang Kalang ini adalah orang Jawa yang berasal dari kelas atas dan memang punya banyak harta kekayaan. Mayoritas dari mereka adalah pengusaha perak. Rumah Hj. Noerijah ini adalah satu rumah orang Kalang tersebut.

Berkunjung ke museum ini memberikan pengalaman yang berkesan. Eksplorasi rumah Hj. Noerijah yang sekarang menjadi museum adalah pengalaman wisata yang patut dicoba oleh siapapun. Rumah dengan arsitektur klasik perpaduan gaya Eropa dan Jawa yang indah, serta tentunya sejarahnya yang panjang. Terima kasih kepada pihak museum yang sudah memandu kami dari awal sampai akhir. Apalagi kunjungan kami termasuk dadakan dan mepet jelang jam tutup museum. Namun museum dengan sangat ramah menerima dan memandu kunjungan kami dari awal sampai akhir.

Romatisme Jogjakarta di Jalan Malioboro

Selepas itu sore sampai malam hari, kami menjelajahi area Malioboro yang ramai oleh pengunjung di Sabtu malam minggu. Ada beberapa pertunjukan seni budaya termasuk angklung dimana salah satu anggota kami bahkan ikut bernyanyi bersama grup tersebut. Malioboro adalah salah satu area di Jogja yang sangat terkenal. Di sepanjang jalan ini, di kanan kirinya banyak ditemui toko-toko baik itu toko yang menjual aneka kerajinan, fashion, toko kopi, penginapan, dan lainnya. Wisatawan juga bisa mencoba naik dokar atau becak motor untuk berkeliling jalan ini. Selain itu, ada juga penyewaan baju khas Jawa dimana wisatawan yang menyewa akan difoto dan mendapatkan foto tersebut. Rombongan di jam 11 malam lantas beranjak pulang ke Jombang. Di tengah perjalanan, mereka mampir ke salah satu toko oleh-oleh untuk berbelanja.

Jalan-jalan ke Jogjakarta ini sangat berkesan apalagi sebagain dari peserta baru pertama kali ke Jogjakarta. Terima kasih kepada seluruh panitia dan peserta. Semoga ke depannya akan banyak tanggapan bagi grup Purnama Laras sehingga bisa jalan-jalan lagi ke daerah lain di kemudian hari. Matur suwun.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *